Tulisan ini kubuat (teringat) saat aku melihatnya terlelap. dalam gelap, wajahnya kutatap. . . Bukan Nirwana, altar cinta Adam dan Hawa Hanya landai gemerlap bintang pagi; penenang jiwa . Pagi, hitam pekat matamu Tentang sendu ditepi penantian; Tanpa kata . Sementara dimatamu aku terbenam. Dilebur keheningan, pikirku terangkaikan; Aku Cinta . Pelan, detik jam memukul bergantian, Dadaku sesak terendam pengharapan; Aku minta . "Kasih, bisakah senantiasa begini?" . Ada biru, ada ragu; dilangit matamu. Sebab rasa berbalut asa, nuansa sedih luruh terasa; sebab dua hati, aku dan kamu; belum bisa bersama. . "Kasih, malam itu aku putuskan menikmati waktu yang tersisa" . Bagian mana yang salah? Tak ada yang salah!! Ucapku berselimut gundah. . "Pi" kataku.. Menatap wajahmu terarah, aku pasrah. . Sejenak waktu bagai terhenti, hati; mati, terpatri; belati. . "iya mas" balasmu, harapku (dihati); bisakah kita tetap begini? tetap disini, bersama menari, melewa...
Comments
Post a Comment