Amerta: Abadi, tak mati.

Dipojok desa berwangi nilam.
Senja diredam malam; ditikam; dicampakkan hingga langit menghitam.
Perlahan, dalam temaram;
.
Aku memuja kasih
.
Disaat itu bayangmu kubenam, manunggal bersama kelam kolam pikirku, merengkuh pucat cintaku jauh di dasar; tenggelam.
.
Mungkin itu sore terakhir.
Setelah kematianmu, akankah aku masih bertasbih, berdzikir? 
.
Dengan apa lagi aku memuja kisah wahai kasih?
.
Kematianmu membuat darahku mudah mendidih, tak lagi gigih.
Aku bak selasih, tak ingin lagi berkasih
.
Hingga saat gelombang kesejukan beredar; pijar sang Fajar.
kutemukan penuh sadar; kau hilang, harapku memudar; berpendar.
.
Harus kemana aku?
.
Sesekali, kudapati diriku menangis sendiri.
Sesekali, berpikir harus kubunuh sesuatu dalam diri.
Berulang kali; ceritaku; Restu & perih. 
.
Masih kuingat; kita berdua, segalanya.
Namun yang kudapati hanya;
.
Cintamu seumpama pasir.
Disela sela jari kau mengalir.
Ku Genggam erat; Kau terlepaskan.
Tak ku Genggam; Aku kehilangan.
.
Setelah peristiwa Agung ini, tanpa kata; tanpa cipta; tanpa cinta.
Sebab duka, sebab lara, sebab nestapa.
Dibawah pohon Ara kan kau temukan aku tanpa air mata, penuh tawa, tersenyum, penuh canda; sebagai santa; bukan lagi pecinta.
Sebab luka darimu; Amerta (Abadi, tak mati)


Comments

Popular posts from this blog

Kepadamu

kita dan beberapa malam

You